Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dapat membuahkan peluang bahkan keuntungan bagi negara-negara di Asia

0 28

dnewsmedcenter – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dapat membuahkan peluang bahkan keuntungan bagi negara-negara di Asia.

Hal itu disampaikan oleh pengamat ekonomi yang merupakan manajer keuanagn di JPMorgan Chase Bank, Rashmi Gupta, dalam wawancara dengan Markets Insider, Kamis (29/8).

Menurut dia, perang dagang antara AS dan Tiongkok sudah berdampak pada peralihan bisnis. Perusahaan-perusahaan AS mulai mengalihkan pabriknya dari Tiongkok ke kawasan Asia Tenggara, antara lain Vietnam.

Pasalnya, saat ini perusahaan-perusahaan AS membuat produk-produknya di Tiongkok atau menggunakan produk-produk dari Tiongkok dalam rantai pasokan global mereka. Tapi untuk menghindari tarif atas produk-produk Tiongkok, mereka dapat mengalihkan produksinya dari Tiongkok ke negara-negara Asia.

Senada dengan itu, dalam laporan bulan Juni 2019, kelompok ekonom di perusahaan keuangan Jepang, Nomura, memberi peringkat kepada negara-negara yang akan paling diuntungkan dari pengalihan impor antara AS dan Tiongkok ke negara lainnya. Produk-produk yang dialihkan sebagian besar barang elektronik, diikuti furnitur dan perlengkapan perjalanan.

“Ini bisa jadi positif dan menguntungkan bagi beberapa industri di ekonomi-ekonomi ini,” sebut pernyataan Nomura.

Pemindahan impor dari Tiongkok sudah disampaikan Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu opsi. Dalam pesannya di Twitter pekan lalu, Trump memerintahkan perusahaan-perusahaan Amerika agar keluar dari Tiongkok setelah Beijing menerapkan tarif impor balasan senilai US$ 75 miliar (Rp 1.067 triliun) barang AS. Trump menegaskan agar perusahaan-perusahaan AS secepatnya mencari alternatif untuk berbisnis dengan Tiongkok.

Dalam pesan yang sama, Trump membalas langkah Tiongkok dengan meningkatkan tarif yang sudah berlaku atas barang impor dari Tiongkok senilai US$ 250 miliar (Rp 3.559 triliun) dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019. Dia menambahkan total impor US$ 300 miliar (Rp 4.270 triliun) yang akan diberlakukan tarif per 1 September 2019 akan dikenakan pajak 15 persen, bukan 10 persen.

Negara-negara pasar tambahan telah terpukul keras atas perang dagang AS-Tiongkok tahun ini. Indeks MSCI Emerging Markets tetap datar pada 2019, sedangkan Indeks S&P 500 telah naik lebih dari 14 persen. Namun, Gupta mengatakan masih banyak peluang di pasar-pasar negara berkembang.

“Kita berbicara tentang pasar-pasar negara berkembang satu bagian, satu kelas aset, tapi Anda harus ingat ada banyak negara yang berbeda,” ujar Gupta.

Perbedaan itu, ujarnya termasuk dari sisi rezim kebijakan dan pemicu pertumbuhan, yang bisa membuat pasar-pasar berkembang menjadi lahan kaya untuk pengembalian. Misalnya, berdasarkan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari perdagangan, Nomura mencatat delapan negara yang mendapatkan keuntungan dari perang dagang AS-Tiongkok.

Peringkat pertama dari penilaian Nomura, adalah Vietnam dengan keuntungan PDB dari perdagangan sebesar 7,9 persen. Produk-produk yang memicu keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel, suku cadang untuk kantor dan mesin otomatis pemroses data. Negara ini juga bisa mendapatkan kenaikan 5 persen dari total ekspor.

Peringkat kedua adalah Taiwan dengan keuntungan PDB dari perdagangan 2,1 persen. Produk-produk penghasil keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel dan suku cadang untuk kantor atau mesin otomatis pemroses data. Peringkat ketiga adalah Malaysia denagn nilai keuntungan PDB 1,5 persen. Produk yang menghasilkan keuntungan adalah semikonduktor dan gas alam. Peringkat keempat adalah Hong Kong dengan keuntungan PDB 1 persen dan produknya adalah emas.

Selanjutnya berturut-turut adalah Korea Selatan (keuntungan PDB: 0,8 persen), Singapura (keuntungan PDB: 0,7 persen), Thailand (keuntungan PDB: 0,5 persen), dan Filipina (keuntungan PDB: 0,1 persen).

Keuntungan perang dagang AS-Tiongkok setidaknya sudah dirasakan oleh dua perusahaan di Vietnam yang memproduksi sepeda listrik untuk Pedego, yaiitu perusahaan Amerika berbasis di California. Sekitar 80 persen suku cadang sepeda Pedego awalnya berasal dari Tiongkok, tapi sekarang tidak lagi.

“Sekarang, kami mungkin 70 persen di Vietnam, dan 30 persen di Taiwan,” kata salah satu pendiri dan kepala eksekutif Pedego, Don DiCostanzo.

Pada Februari 2018, DiCostanzo memutuskan untuk memindahkan produksi ke Vietnam karena ancaman tingginya tarif Uni Eropa (UE) atas barang-barang sepeda listrik buatan Tiongkok. Produksi di Vietnam dimulai tujuh bulan setelahnya, yaitu September 2018. Ini merupakan bulan yang sama saat pemerintah AS memerintahkan tarif pada produk-produk buatan Tiongkok termasuk sepeda listrik.

“Kami setelah itu dapat mempercepat produksi. Dan kami mulai memproduksi sepeda di Vietnam untuk negara ini (AS) pada September, tepat setelah tarif diberlakukan,” kata DiCostanzo.

Perusahaannya kemudian mengurangi seluruh produksi di Tiongkok dan memindahkannya ke Vietnam. Selanjutnya pada awal 2019, pabrik-pabrik di Vietnam memproduksi sepeda untuk Pedego. Namun, beberapa suku cadang masih berasal dari Tiongkok, sehingga DiCostanzo masih mencari negara-negara lain untuk mengalihkan produksinya. Otomatis saat ini, kebutuhan Pedego untuk suku cadang dari Tiongkok semakin lama menurun.

Negara di luar kawasan Asia yang juga diuntungkan atas perang dagang AS-Tiongkok adalah Meksiko. Perusahaan kamera berbasis di AS, GoPro memindahkan produksinya untuk AS dari Tiongkok ke Meksiko sejak Juni 2019. Namun, kamera-kamera GoPro untuk pasar lain selain AS tetap dibuat di Tiongkok.

“Kedua negara mendapatkkan keuntungan paling besar adalah Vietnam dan Meksiko. Dan setiap orang di sini melihat mereka dengan iri,”” kata Kepala Pusat untuk Ekonomi Kawasan di Institut Milken California, Kevin Klowden.

Biro Sensus AS melaporkan barang-barang impor dari Meksiko mengalami peningkatan lebih dari enam persen dalam enam bulan pertama tahun 2019, dibandingkan periode yang sama pada 2018. Senada dengan itu, impor dari Vietnam selama periode sama juga meningkat lebih dari 33 persen. Sedangkan, impor Tiongkok untuk periode yang sama turun sampai lebih dari 12 persen.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ