Perjalanan Inggris yang panjang dan menyakitkan untuk mencapai final keduanya di turnamen besar sepakbola

oleh -690 views

Perjalanan Inggris yang panjang dan menyakitkan untuk mencapai final keduanya di turnamen besar sepakbola akhirnya berakhir malam tadi.

Perjalanan Inggris yang panjang dan menyakitkan untuk mencapai final keduanya di turnamen besar sepakbola

Inggris pertama kali masuk final 55 tahun silam yang berakhir manis dengan menjuarai Piala Dunia di kandang sendiri.

Sejak itu, banyak pelatih disewa dan dipecat, banyak pemain direkrut dan dibuang, banyak laga dimenangkan atau ditangisi, tetapi cita-cita masuk final selalu berakhir dengan kegagalan –sampai datanglah Gareth Southgate dan skuatnya di Euro 2020.

Kantor berita BBC merangkum perjalanan panjang tim nasional Inggris antara dua final turnamen besar itu, jarak terlama di antara semua negara Eropa yang pernah masuk final lebih dari sekali.

Sejarah Menyakitkan
Ketika Inggris masuk final Piala Dunia 1966, negara itu larut dalam suka cita, bendera dikibarkan di mana-mana dan saat pertandingan jalanan sepi karena warga terpaku di depan televisi.

Harapan untuk bisa mengulang kisah itu tidak pernah padam, tetapi 55 tahun berikutnya kisah yang muncul lebih banyak bertemakan rasa duka dan aib.

Sejak menjadi juara dunia, Inggris bisa masuk babak sistem gugur turnamen UEFA dan FIFA 14 kali dari kemungkinan 28 – atau tingkat keberhasilan 50%. Bandingkan dengan Jerman yang memiliki tingkat keberhasilan 71,43%.

Capaian Inggris di Turnamen FIFA dan UEFA

Setiap pendukung tim Inggris punya kisah sedih masing-masing, bergantung pada umur mereka.

Misalnya, gol lewat tendangan voli pemain Jerman Gerd Muller di Meksiko pada 1970, gol “tangan Tuhan” Diego Maradona di negara yang sama pada 1986, kekalahan penalti melawan Jerman pada 1990 dan 1996, Wayne Rooney yang cedera dan keluar lapangan pada 2004 dan dia dikartumerah pada 2006, atau gol Frank Lampard yang tidak disahkan pada 2010.

Portugal Sandungan Terberat
Total, Inggris telah memainkan 302 laga kompetitif di turnamen resmi UEFA dan FIFA sejak Piala Dunia 1966, baik di babak kualifikasi maupun di putaran final. Total 27.570 menit (termasuk babak tambahan tetapi bukan injury time) waktu pertandingan yang telah mereka tempuh untuk akhirnya masuk final lagi.

Dari seluruh pertandingan itu, mereka menang 180 kali (persentase kemenangan 59,6%), mencetak 604 gol dan kemasukan 196 kali.

Semua perjuangan dan pengorbanan itu berakhir sia-sia kalau kita kurangi dengan 14 pertandingan, 12 kemenangan dan 47 gol yang diraih skuat Euro 2020 asuhan Southgate.

Lawan yang paling sering dihadapi Inggris adalah Polandia, dengan 18 kali pertemuan dan 11 kemenangan untuk Inggris.

Laga dua negara yang paling terkenal, atau paling menyakitkan bagi Inggris, adalah yang berakhir imbang 1-1 di Wembley, ketika aksi gemilang kiper Polandia Jan Tomaszewski membuat Inggris gagal lolos masuk putaran final Piala Dunia 1974.

Ada sejumlah negara yang selalu dikalahkan Inggris, misalnya San Marino, yang ditekuk tujuh kali dengan total 42 gol dan hanya sekali kemasukan.

Satu gol kemasukan itu lebih dikenang daripada semua gol yang dicetak Inggris, karena terjadi delapan detik sebelum laga usai yang menandai akhir babak kualifikasi Piala Dunia pada 1993 dan memastikan kegagalan tim asuhan Graham Taylor untuk maju ke putaran final di Amerika Serikat musim panas 1994.

Rekor terburuk Inggis di ajang kompetitif adalah pertandingan melawan Portugal yang tidak pernah mereka menangkan sejak 1966. Portugal menghentikan langkah Inggris di Euro 2004 dan Piala Dunia 2006 lewat adu penalti.

Mereka bertemu enam kali, seri empat kali dan Inggris kalah dua kali (tidak termasuk kekalahan adu penalti).

Di putaran final turnamen, Portugal menyingkirkan Inggris empat kali (termasuk dua kali adu penalti), sama seperti yang dilakukan Jerman.

Daftar negara yang menjadi momok Inggris termasuk lawan di final Euro 2020 nanti, Italia.

Southgate Memang Oke
Sir Alf Ramsay mempersembahkan trofi Piala Dunia pada 1966 dan dia satu dari 14 pelatih yang menukangi Inggris di laga-laga penting.

Pelatih asal Swedia Sven-Goran Eriksson, yang membawa Inggris ke babak perempat final tiga kali periode 2002-2006, punya persentase kemenangan terbaik sejak 1966 (ini jika kita mengabaikan rekor 100% pelatih Sam Allardyce yang hanya pernah membawa Inggris ke satu pertandingan saja).

Pelatih asing lainnya, Fabio Capello asal Italia, sedikit di bawah, tetapi rekor dia juga karena kinerja babak kualifikasi yang tanpa kalah menuju Piala Dunia 2010, di mana akhirnya Inggris tersingkir di babak 16 besar dalam laga menyedihkan melawan Jerman.

Pelatih yang sekarang, Gareth Southgate, punya tingkat kemenangan bagus dan dia satu-satunya manajer yang pernah membawa Inggris ke semifinal tiga kali (Piala Dunia 2018, Liga Negara Eropa 2019, dan Euro 2020).

Hanya dia dan Ramsey yang pernah membawa Inggris ke final turnamen besar.

Jika kemenangan lewat adu penalti dihitung, Southgate menguasai 24,32% semua kemenangan Inggris di putaran final turnamen UEFA dan FIFA sejak Piala Dunia 1966. Tim asuhannya nya juga di urutan ketiga dalam soal jumlah pertandingan tanpa kemasukan gol.

Selain itu, Southgate adalah pelatih pertama setelah Ramsey yang mampu mengalahkan Jerman di babak sistem gugur turnamen besar.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.