Perkembangan dunia digital khususnya financial technology (fintech) memperoleh momentum signifikan

0 35

dnewsmedcenter – Perkembangan dunia digital khususnya financial technology (fintech) memperoleh momentum signifikan dalam beberapa tahun terakhir di mana perusahaan rintisan (startup) yang fokus berinovasi mendobrak layanan keuangan tradisional.

Deputi Akses Permodalan di Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo menyatakan startup baik itu social enterprise maupun fintech adalah game-changer masa depan untuk memecahkan tantangan sosial ekonomi di masa mendatang.

Menurutnya, perusahaan startup telah menghasilkan multiplier effect pada banyak Usaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Mereka memberi solusi bagi kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan ekonomi sehari-hari, seperti nelayan, petani, dan lain-lain,” kata Fadjar Hutomo.

Bekraf kata dia, menargetkan startup bisa menyerap 12.000 tenaga kerja. Bekraf juga ingin mendorong ekonomi kreatif, atau inovasi ekonomi, yang intinya ada nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan, tidak hanya mengambil sumber daya alam.

“Masalahnya, meski jumlah pelaku UKM kita 60 juta, setara 20 persen penduduk, tapi UKM kita keropos, banyak traders-nya bukan makers. E-commerce-pun akan lebih berdampak kalau yang diperdagangkan barang kita,” kata Fadjar Hutomo di sela diskusi TechexChange yang digelar Finmas, di Jakarta, Jumat (13/0/2019).

TechXchange merupakan program yang diinisiasi Finmas untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai industri startup atau fintech lending dengan mengundang narasumber dari berbagai stakeholder yang memiliki kompetensi dan pemahaman di bidang fintech lending maupun industri sejenis.

Kasubdit bidang Pengembangan Kewirausahaan dan Keterampilan Usaha Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Riya Farwati menambahkan pemerintah mencanangkan program Indonesia Emas 2045, yang artinya akan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045 mendatang. Peranan fintech dan startup sangat penting di sini.

“Ada apa di tahun 2045? Indonesia mengalami bonus demografi di tahun 2035. Dan berdasarkan pengalaman negara Jepang, Korea, dan Tiongkok, puncak kejayaan mereka sangat relevan dengan bonus demografi. Kalau dilihat hari ini, mereka kekurangan pemuda, dan usia produktif. Itulah fenomena di negara maju, ketika sudah makmur enggan menikah. Tiongkok pun mulai mengencourage warganya untuk punya dua anak,” kata Riya Farwati.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ