Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat lebih dari yang diharapkan pada kuartal III-2021

oleh -436 views

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat lebih dari yang diharapkan pada kuartal III-2021, menurut data resmi yang dirilis Senin (18/10/2021). Penurunan tersebut sebagian besar sebagai dampak tindakan keras terhadap sektor properti dan krisis energi yang mengancam mulai menggigit.

Setelah pemulihan virus corona yang cepat, pemulihan di ekonomi terbesar kedua di dunia kehilangan tenaga pertumbuhan. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,9% pada tahun ini, kata Biro Statistik Nasional (NBS), mengutip rebound domestik yang dinilai tidak stabil dan tidak merata.

Angka tersebut hanya kurang dari perkiraan 5,0% hasil survei AFP pada para analis, atau turun tajam hingga tiga persentase poin dari kinerja April-Juni 2021.

“Ketidakpastian lingkungan internasional saat ini meningkat dan pemulihan ekonomi domestik masih belum stabil dan tidak merata,” kata Juru bicara NBS Fu Linghui, Senin (18/10/2021).

Ekonomi tumbuh hanya 0,2% dari tiga bulan sebelumnya, merupakan pertumbuhan terlemah sejak kontraksi bersejarah pada kuartal I-2020.

Pertumbuhan terseret oleh perlambatan di (sektor) real estat, diperkuat baru-baru ini oleh dampak dari masalah keuangan Evergrande,” jelas kepala ekonomi Asia Oxford Economics Louis Kuijs.

Raksasa properti Tiongkok Evergrande saat ini tenggelam dalam utang lebih dari US$ 300 miliar, memukul sentimen di antara calon pembeli.

Peraturan pemerintah yang ketat terhadap sektor real estat, khususnya pengetatan aturan pinjaman, telah memberikan pukulan telak terhadap pendorong penting pertumbuhan ekonomi. Ini memberi efek lanjutan kepada industri lain, termasuk sektor konstruksi.

Investor sekarang mengawasi dengan khawatir perkembangan Evergrande, karena bisa berdampak ke ekonomi yang lebih luas.

Bank sentral Tiongkok (PBoC) pada akhir pekan lalu meyakinkan bahwa setiap kejatuhan sektor keuangan akan dapat dikendalikan. Namun, Gubernur PBoC Yi Gang mengatakan pada sebuah seminar Minggu (17/10) bahwa pihak berwenang sedang mengawasi masalah seperti risiko gagal bayar.

“Karena salah urus dan ekspansi berbahaya (di beberapa perusahaan),” katanya.

Sebagai tanda dari pelemahan yang sedang berlangsung di pasar properti, penjualan rumah berdasarkan nilai merosot 16,9% sejak awal tahun hingga bulan lalu. Menurut perhitungan AFP berdasarkan data resmi, hasil tersebut menyusul penurunan 19,7% pada Agustus 2021.

Kuijs juga mencatat ada pukulan tambahan pada September 2021 dari kekurangan pasokan listrik dan pengurangan produksi, disebabkan oleh penerapan yang ketat pada target iklim dan keamanan oleh pemerintah daerah.

Kerusakan tambahan, katanya, terlihat pada output industri yang lebih lemah sehingga melambat menjadi 3,1% dalam setahun.

“Cetak PDB kuartal ketiga yang lemah mencerminkan kombinasi faktor negatif,” kata Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia-Pasifik di IHS Markit, Ia juga memasukkan faktor gangguan rantai pasokan.

 

Sementara itu, analis Fidelity International mengatakan bahwa sementara ketakutan properti menjadi pusat guncangan, hambatan ekonomi diperburuk oleh krisis listrik, penguncian regional, dan strategi nol kasus Covid-19 yang memukul sektor jasa dan pendapatan yang siap dibelanjakan (pendapatan disposabel).

“Satu-satunya kejutan dalam angka PDB Tiongkok yang dipublikasikan adalah bahwa angka tersebut tidak lebih rendah,” ujar Paras Anand, kepala investasi Asia-Pasifik Fidelity.

“Tindakan kebijakan telah cepat dan telah menyebabkan jatuhnya sentimen investor global,” jelasnya. Meskipun ia menambahkan, langkah-langkah pengetatan kemungkinan telah mencapai puncaknya untuk saat ini.

Kuijs percaya bahwa meskipun kekurangan listrik dan pengurangan produksi dikendalikan di kuartal IV-201, penurunan real estat yang tertunda akan terus membebani pertumbuhan secara substansial.

PDB masih diperkirakan tumbuh sekitar 8% sepanjang tahun, tambah Yi.

Angka yang lemah telah menambah spekulasi bahwa pejabat akan mengumumkan pemotongan jumlah uang tunai bank yang harus tetap dalam cadangan, sehingga menyediakan likuiditas ke sistem keuangan. Tetapi mereka harus berjalan di antara mendukung pertumbuhan dan menjaga inflasi.

Namun, ada titik terang, dengan penjualan ritel naik 4,4% dari 2,5% pada Agustus 2021 karena langkah-langkah penahanan virus dilonggarkan di negara itu. Sebelumnya, pemerintah Tiongkok telah memberlakukan sejumlah penguncian lokal atas kenaikan kasus virus.

Sementara tingkat pengangguran perkotaan turun sedikit pada level 4,9%, ekonom ING Iris Pang mengatakan kepada AFP pembatasan pada bisnis les privat juga bisa memukul pekerjaan kerah putih.

“Akan ada banyak pengangguran dari pusat-pusat ini,” katanya, memperingatkan bahwa mantan staf mungkin akan menerima pekerjaan baru dengan upah lebih rendah, yang pada gilirannya akan menekan pengeluaran.

Para pejabat khawatir pengangguran dapat menyebabkan kerusuhan sosial setelah mencapai level tertinggi dalam lima tahun, Februari tahun lalu.

No More Posts Available.

No more pages to load.