Perubahan iklim global adalah masalah serius yang akan dihadapi dan mempengaruhi semua orang di dunia

0 30

Perubahan iklim global adalah masalah serius yang akan dihadapi dan mempengaruhi semua orang di dunia. Persoalan ini juga merupakan kewajiban setiap orang dan setiap negara untuk melakukan perbaikan dalam tindakan mereka.

Namun, karena faktor politik internasional, Taiwan tidak dapat menjadi bagian dalam kontrak The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Padahal, Taiwan memiliki kemauan yang kuta dan kemampuan nyata untuk memerangi perubahan iklim dengan negara lain di dalam kerangka UNFCCC.

Dalam tulisannya Menteri Perlindungan Lingkungan Taiwan, Chang Tzi-chin secara khusus memperkenalkan upaya Taiwan dalam memerangi perubahan iklim. Dia juga menyerukan negara-negara lain untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam UNFCCC dan menyertakan Taiwan ke dalam mekanisme pengurangan karbon global, negosiasi, dan perjanjian Paris untuk perubahan iklim serta aktivitas terkait lainnya.

Seperti dilansir dari siaran pers Kantor Perwakilan Ekonomi dan Perdagangan Taipei (Taipei Economic and Trade Office/TETO), Senin (2/12/2019) Menteri Chang Tzi-chin mengatakan bahwa Taiwan telah mengesahkan Undang-Undang tentang Pengelolaan dan Pengurangan Gas Rumah Kaca. “Taiwan juga menyelesaikan program Jaringan Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim, skema upaya pengurangan gas rumah kaca, dan merumuskan Rencana Aksi Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca,” ujarnya.

Dikatakan, pada 2025, Taiwan diperkirakan akan mencapai tujuan 20 GW untuk pembangkit listrik tenaga surya dan 6,9 GW untuk pembangkit listrik tenaga angin. Taiwan juga telah memperkuat insentif keuangan untuk mendukung pengembangan industri teknologi energi hijau dan secara aktif mempromosikan “Rencana Pelaksanaan Finansial Hijau”.

Menteri Chang juga menyebutkan, satelit FORMOSAT-3 yang diluncurkan oleh Taiwan pada 2006 telah mengumpulkan lebih dari 10 juta data meteorologi dan menyediakan penelitian ilmiah gratis kepada para sarjana dari berbagai negara. Satelit FORMOSAT-7 yang diluncurkan tahun ini akan lebih efektif meningkatkan keakuratan prakiraan cuaca ekstrem dan memberikan kontribusi positif bagi prakiraan cuaca global serta perubahan iklim.

Dikatakan pula, Taiwan telah merumuskan Rencana Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Nasional untuk membangun sistem ketahanan dalam menanggapi perubahan iklim dari delapan aspek, yakni bencana, infrasruktur kelangsungan hidup, sumber daya air, keamanan pertanahan, pesisir pantai, energi dan industri, pertanian, serta kesehatan.

Menurut Menteri Chang, sangat tidak adil bagi Taiwan untuk dikeluarkan dari organisasi internasional karena prasangka politik. Tidak hanya bertentangan dengan semangat UNFCCC yang menyerukan semua negara untuk bekerja sama secara luas dalam perubahan iklim global, hal itu juga mengabaikan Perjanjian Paris yang menekankan prinsip keadilan iklim dan menyerukan pentingnya tindakan iklim oleh negara-negara, bahkan juga bertentangan dengan tujuan Piagam PBB serta melemahkan struktur internasional dan membahayakan dunia.

“Dalam menghadapi masyarakat internasional, Taiwan adalah teman yang tulus yang bertanggung jawab dan mau berkontribusi. Taiwan berusaha untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Taiwan benar-benar layak untuk dimasukkan dalam sistem perubahan iklim global,” kata Chang.

TETO di Jakarta, John Chen mengatakan, Konferensi UNFCCC ke-25 (COP 25) akan diadakan di Spanyol pada Desember tahun ini. Karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat organisasi nonpemerintah (LSM).

Bagi Taiwan dan dunia, kata Joh Chen, kondisi itu merupakan kerugian besar untuk melawan perubahan iklim. Dia pun meminta Indonesia dan negara-negara lain untuk tidak membatasi pandangan mereka pada pertimbangan politik dan mendukung partisipasi Taiwan untuk berkontribusi secara profesional dan pragmatis di UNFCCC untuk bersama-sama memerangi perubahan iklim.

“Sesuai dengan semangat UNFCCC, Taiwan secara aktif membantu negara-negara berkembang dalam rencana mitigasi dan adaptasi jangka panjang untuk memerangi perubahan iklim serta menunjukkan tekad kami untuk berkontribusi kepada dunia. Misalnya, Taiwan membantu Belize dan Honduras dalam pengurangan bencana dan peringatan pencegahan bencana, membantu Kepulauan Marshall mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 992 ton setiap tahun,” ujarnya.

Dikatakan, Taiwan juga sangat terpengaruh oleh perubahan iklim dan telah mengembangkan banyak teknologi yang sesuai dan bersedia untuk berbagi dengan negara lain. Namun, karena faktor politik internasional, Taiwan hanya dapat menghadiri pertemuan tersebut sebagai pengamat LSM dan tidak dapat menyerahkan Nationally Determined Contribution (NDC) Taiwan kepada Sekretariat UNFCCC.

Seperti negara lainnya, kata John Chen, Taiwan seharusnya memiliki peluang yang sama untuk bergabung dengan mekanisme pengurangan karbon global, menegosiasikan kegiatan terkait dengan Perjanjian Paris, dan bekerja sama untuk memberikan kontribusi usaha maksimal bagi lingkungan dan generasi mendatang.

“Perubahan cuaca telah terjadi dan telah memengaruhi negara lain. Semoga negara-negara lain tidak mengesampingkan Taiwan hanya karena masalah politik, Taiwan bersedia bekerja sama dengan anggota masyarakat internasional untuk menjaga dan melindungi dunia,” ujarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ