Polres Metro Jakarta Pusat sedang menyelidiki motif pemasaran praktik aborsi yang terjadi di sebuah rumah kontrakan di Sumur Batu, Kemayoran

Polres Metro Jakarta Pusat sedang menyelidiki motif pemasaran praktik aborsi yang terjadi di sebuah rumah kontrakan di Sumur Batu, Kemayoran

Nasional413 Dilihat

Polres Metro Jakarta Pusat sedang menyelidiki motif pemasaran praktik aborsi yang terjadi di sebuah rumah kontrakan di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menurut Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Komarudin, praktik aborsi ini diduga dipasarkan melalui media sosial oleh seseorang dengan inisial NA, yang saat ini telah ditangkap oleh Polres Metro Jakarta Pusat.

“Ada beberapa akun yang biasanya jika kita mengkliknya akan terlihat tulisan dokter aborsi. Ada link di sana dan jika kita mengklik salah satu link tersebut, maka akan muncul nomor kontak NA,” kata Komarudin di lokasi penggerebekan di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta, Rabu (28/6/2023).

NA adalah orang yang bertugas sebagai penghubung untuk praktik aborsi tersebut, dia menyosialisasikan dan mencari pasien aborsi. NA merupakan asisten dari SN, yang bertindak sebagai pelaku eksekusi aborsi. SN sendiri terdaftar sebagai ibu rumah tangga dalam kartu identitasnya.

Dalam praktiknya, NA menghubungi calon pasien untuk membuat janji temu. Kemudian, pasien dijemput oleh SN sebagai pengemudi yang mengantarkan mereka ke lokasi aborsi, yaitu rumah kontrakan di Jalan Merah Delima, Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat.

“Hanya satu mobil yang selalu parkir di tempat ini, datangnya pagi, pulangnya sore, dan selalu membawa wanita-wanita. Begitu juga saat pulang,” ujar Komarudin kepada Antara.

Komarudin juga mengungkapkan bahwa SN, sebagai eksekutor aborsi, tidak memiliki latar belakang medis atau kedokteran.

Polisi masih menyelidiki dugaan bahwa SN sebelumnya menjadi asisten di praktik aborsi sebelum akhirnya menjadi pelaku eksekusi.

Adanya peralatan yang sangat sederhana, seperti alat vakum janin, beberapa alat suntik, dan obat-obatan yang dapat dibeli secara bebas di apotek, menjadi indikasi awal bahwa SN mungkin pernah bekerja di praktik aborsi sebelumnya.

Berdasarkan pengakuan awal, para pelaku menyatakan bahwa dalam kurun waktu sekitar satu bulan, sekitar 50 wanita telah melakukan aborsi di tempat tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *