Rusia telah meningkatkan kesiagaannya terkait aksi terorisme di Transnistria

oleh -92 Dilihat
(FILES) In this file photo taken on September 11, 2021 a woman walks past a huge coat of arms of Transnistria - Moldova's pro-Russian breakaway region on the eastern border with Ukraine, in Transnistria's capital of Tiraspol. - The president of ex-Soviet Moldova on April 26, 2022 convened a meeting of the country's security council after a series of blasts in the Russian-backed separatist Transnistria region. The breakaway region of ex-Soviet Moldova, which borders western Ukraine, saw explosions hit its security ministry on Monday and a radio tower on Tuesday morning. The incidents come after a senior Russian military official last week raised the issue of "oppression" of Russian speakers in Transnistria in the context of Russia's military campaign in Ukraine. (Photo by Sergei GAPON / AFP)

Rusia telah meningkatkan kesiagaannya terkait aksi terorisme di Transnistria, wilayah yang memisahkan diri dari Moldova, dan kini berada dalam keamanan Moskwa. Pihak otoritas di sana melaporkan beberapa serangan separatis pada minggu ini.

“Kami khawatir dengan meningkatnya ketegangan di Transnistria,” kata juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova pada pengarahan mingguannya, Kamis (28/4/2022).

Ia menunjuk pada laporan penembakan dan ledakan yang terjadi di Transnistria.

“Kami menganggap tindakan ini sebagai tindakan terorisme yang bertujuan untuk mengacaukan situasi di kawasan dan mengharapkan penyelidikan yang menyeluruh dan objektif,” tambah Zakharova.

Dia mengatakan, Rusia “sangat mengutuk” upaya untuk melibatkan Transnistria dalam konflik di negara tetangga Ukraina, di mana Moskwa telah melakukan operasi militer selama lebih dari dua bulan.

Zakharova juga menolak “pernyataan sensasional” dari Ukraina tentang pasukan penjaga perdamaian Rusia dan wajib militer Transnistria yang mempersiapkan “untuk beberapa tindakan ofensif”.

Wilayah separatis yang berbatasan dengan Ukraina ini telah melaporkan ledakan di kementerian keamanan, unit militer dan menara radio milik Rusia serta penembakan ke sebuah desa yang menampung depot senjata Rusia.

Republik Transnistria memisahkan diri dari Moldova pada tahun 1992 setelah perang singkat dengan Chisinau. Sekitar 1.500 tentara Rusia telah ditempatkan di sana sejak saat itu.

Kekhawatiran destabilisasi di kawasan itu tumbuh setelah seorang jenderal Rusia mengatakan bahwa serangan Kremlin bertujuan untuk menciptakan koridor darat melalui Ukraina selatan ke Transnistria.

Kyiv menuduh Rusia ingin mengacaukan kawasan itu dan membuat dalih untuk intervensi militer.

No More Posts Available.

No more pages to load.