Selama masa pandemi, layanan over-the-top (OTT) atau televisi digital lokal maupun internasional bersaing ketat

oleh -268 views

Selama masa pandemi, layanan over-the-top (OTT) atau televisi digital lokal maupun internasional bersaing ketat memberi hiburan terbaik dan berkualitas untuk pelanggan atau penggunanya. Maklum saja, selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tontonan di aplikasi OTT kerap menjadi pilihan orang untuk melepas penat.

Menangkap celah di situasi pandemi ini, sebagai layanan OTT lokal, Mola TV melakukan berbagai upaya untuk menggaet masyarakat. Tidak hanya menekan pada konten hiburan semata, Mola TV memiliki komitmen penuh untuk memberikan tayangan yang berkualitas untuk setiap kalangan.

Salah satu komitmen yang mereka pegang adalah melindungi masyarakat dari tayangan kurang mendidik yang bisa didapat dengan mudah di televisi atau pun layanan streaming lainnya.

“Secara keseluruhan, kita ingin menghadirkan konsep kekeluargaan, serta memiliki topik inspirasional dan edukatif tanpa menggurui. Tayangan-tayangan yang sifatnya receh dan mengedepankan hiburan semata, haram buat kami. Karena kami hadir bukan sekadar berjualan cari uang dan keuntungan,” terang perwakilan dari Mola TV, Mirwan Suwarso kepada Suara Pembaruan melalui percakapan daring, belum lama ini.

Selain menawarkan tayangan berkualitas, Mola TV juga berupaya untuk menjangkau masyarakat luas dengan penawaran harga berlangganan yang ramah di kantong. Bagi masyarakat yang ingin berlangganan paket reguler, Mola TV menyediakan harga Rp 12.500 per bulan. Harapannya, tayangan Mola TV ini bisa dinikmati oleh setiap kalangan.

Sedangkan untuk paket premium Rp 65.000 per bulan atau Rp 500.000 per tahun untuk menikmati semua tayangan langsung pertandingan olahraga premium milik Mola TV seperti Liga Inggris dan HBO GO.

“Perbedaan yang terlihat yakni sebelum pandemi hingga saat ini ada penambahan pengguna. Sebelum pandemi kita memiliki 100.000 pelanggan, sekarang kita ada 300.000 lebih. Namun, jika dihitung dengan jumlah pelanggan lepas Mola TV atau yang berlangganan sebulan lalu berhenti, jumlahnya mungkin lebih dari satu juta,” tukasnya.

728×90 Leaderbord

Senada dengan Mola TV, dua aplikasi OTT yang terlaris saat ini yakni Viu dan Netflix juga berlomba menyajikan film terbaik untuk pengguna.

Terkait keuntungan pada aplikasi OTT, sebelumnya Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru, Ahmad Mahendra kepada Suara Pembaruan mengatakan, sejak 2-3 tahun belakangan pelanggan OTT meningkat, khususnya di Indonesia. Dengan situasi pandemi ini, layanan OTT bisa menjadi sebuah alternatif yang dapat membantu sineas untuk mendistribusikan filmnya.

“Budaya menonton masyarakat pun cenderung ke layanan streaming, selama bioskop belum resmi dibuka. Layanan streaming ini juga dimanfaatkan oleh beberapa produser film untuk merilis film-film baru yang selama ini telah tertunda akibat Covid-19,” ungkap Ahmad melalui surat elektronik.

Lewat layanan OTT, masyarakat yang sudah menjadi pelanggan juga diberikan berbagai kenyamanan, kemudahan, serta keamanan. Bermodalkan gawai dan kuota internet yang cukup, pelanggan langsung bisa berselancar bebas menikmati film atau serial yang mereka suka.

Peningkatan jumlah pelanggan juga dipaparkan oleh data AMPD Research pada kuartal pertama, yakni Januari-Maret 2020. Layanan OTT Viu menempati peringkat pertama berdasarkan jumlah, yakni 14 juta pengguna (pelanggan) di Asia Tenggara.