Sembahyang Rebutan atau King Hoo Ping Diwarnai Dengan Bakti Sosial Untuk Warga Sekitar

0 33

KEBUMEN- Sembahyang Rebutan atau King Hoo Ping dilakukan pada bulan ke- 7 Imlek untuk menghormati leluhur atau orang tua yang dikenal atau tidak dikenal yang dilaksanakan di Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen pada Kamis, 15/8.

Kegiatan diisi dengan pembagian 1.000 paket sembako gratis kepada warga sekitar yang dilakukan setelah digelarnya ritual sembahyang Rebutan di kelenteng tersebut. Caranya warga yang telah menerima kupon dapat menukarkan kupon dengan paket sembako yang berisi beras, mi instan dan aneka kue.

Ketua Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Kong Hwie Kiong Sugeng Budiawan mengatakan pembagian paket sembako gratis tersebut sebagai laku cinta bakti sebagai sesama makhluk.

“Kegiatan tersebut dipersembahkan kepada arwah leluhur, orangtua, maupun orang-orang yang telah mendahului mereka. Kita berbagi dengan warga yang kurang beruntung. Tradisi King Hoo Ping atau sembahyang arwah selalu digelar rutin oleh warga keturunan Tiong Hoa di Kebumen. Pada tradisi yang dipimpin oleh sesepuh klenteng ini di persembahkan sejumlah sesajian yang ditaruh ditaruh di atas. Sesaji tersebut berupa lauk pauk, nasi, kue, buah, dan minuman,” jelasnya.

Salah satu Pengurus Klenteng Kong Hwie Kiong Santoso mengatakan sembahyang rebutan atau sembahyang arwah ini sebagai ritual budaya.

“Sembahyang rebutan atau sembahyang arwah ini dilakukan tanggal 1- 15 bulan 7 kalender Lunar sebagai ritual budaya, mirip resik (atau bebersih makam), jadi leluhur bisa mengunjungi anak cucu sehingga untuk menjamu mereka. Pada dasarnya bakti sosial ini untuk supaya leluhur kita senang jika ada yang hadir sehingga selain melayani yang ‘tidak kelihatan’ saja bisa apalagi yang ‘kelihatan’. Bakti sosial dibagikan kepada warga sekitar kelenteng tanpa memandang Chines atau bukan. Bakti sosial ini diharapkan dapat menjaga kerukunan antar umat beragama antar suku bangsa,” jelasnya.

Ingin tahu lebih lengkap berikut ini sejarahnya.

Dalam Tradisi Tionghoa, bulan 7 Tanggal 15 menurut Penanggalan Imlek dirayakan sebagai Festival Zhong Yuan Jie atau Chit Gwee Pua (Bahasa Hokkien) adalah merupakan hari di mana orang Tionghoa akan mengadakan sembahyang pada arwah leluhur dan arwah-arwah yang berada disekitar mereka yang merupakan sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa.

Bulan 7 dalam penanggalan Tionghoa lebih dikenal dengan istilah Bulan hantu. Ada sebuah kepercayaan di mana dalam kurun waktu 1 bulan ini, Pintu Gerbang Neraka dibuka bebas sehingga arwah-arwah yang mendiami alam baka sana bebas keluar untuk masuk ke alam dunia manusia, mengunjungi keluarga dan kerabat mereka yang masih hidup.

Di Indonesia, karena adanya kepercayaan semacam itu, maka di bulan ini takhyul dan mitos seakan disebar di mana-mana. Para orangtua akan mewanti-wanti anak mereka agar tidak mandi atau makan terlalu malam, dan berkeliaran sembarangan apalagi di malam hari, karena khawatir arwah jahat bisa saja mencelakai mereka

Bagi yang ingin melakukan sesuatu yang penting, seperti pindah rumah atau memulai usaha, juga dianjurkan untuk tidak melakukannya selama bulan ini karena diyakini akan mengalami kesialan atau kegagalan, dan dipercaya peristiwa-peristiwa baik dan menggembirakan yang dilaksanakan di bulan “hantu” akan mendatangkan kesialan. Namun pengaruh religius terutama dari Buddhisme menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu-hantu kelaparan yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia.

Puncaknya adalah di tanggal 15. Di hari puncaknya, biasanya diadakan upacara sembahyang di rumah di tiap keluarga. Beberapa dari mereka akan menyiapkan barang-barang untuk dibakar seperti lilin, dupa/hio, hingga uang kertas alam baka, pakaian, dan barang-barang lainnya yang tentu saja dikhususkan untuk orang mati.

Karena ada kepercayaan hantu-hantu kelaparan akan keluar dari dunianya, maka biasanya di tiap-tiap keluarga akan menghidangkan makanan di rumahnya masing-masing untuk menyambut arwah keluarga mereka yang kelaparan.

Di samping itu, biasanya di sudut-sudut jalanan terdapat beberapa sesajen, lilin, hio, atau uang kertas yang konon juga dipersembahkan untuk hantu-hantu kelaparan yang sudah tidak memiliki keluarga di dunia ini.

Di beberapa kota Indonesia, masih bisa dijumpai perayaan umat Konghucu di kelenteng yang namanya, “Sembahyang Rebutan“. Jadi warga Tionghoa, akan membawa persembahan-persembahan ke kelenteng yang dikumpulkan jadi satu, disusun “mbukit” dan setelah prosesi doa, persembahan-persembahan itu akan direbut oleh umat yang hadir, dan dipercaya makanan itu akan membawa berkah bagi yang mengkonsumsinya.

Sementara itu, di beberapa negara lain, Festival Hantu Lapar sering dirayakan besar-besaran dan menjadi bagian dari “menu” pariwisata yang layak untuk dicicipi wisatawan karena pertengahan bulan ke-tujuh merupakan waktu di mana festival diadakan untuk merayakannya. Di Singapura, atau Hong Kong, mereka mengenalnya dengan Hungry Ghost Festival (Festival Hantu Lapar).

Kemudian yang menjadi kebiasaan warga Tionghoa juga adalah adanya “persembahan” untuk arwah-arwah itu. Biasanya mereka semua akan keluar rumah untuk merayakan festival tersebut. Dari jam 6 sore, di depan rumah warga Tionghoa biasanya sudah tampak beberapa sesajian, termasuk lilin, hio dan uang kertas.

Pemandangan yang semakin menambah kentalnya nuansa mistis di jalanan. Membakar hio untuk mendoakan arwah leluhur mereka, membakar dan menerbangkan lentera ke langit sebagai ungkapan mengirim doa untuk mereka yang sudah meninggal.

Yang lainnya ada juga yang mengungkapkan pesannya dengan mengapungkan perahu-perahu kertas di air. Konon jika perahu itu mengapung lama dan sampai di pinggiran pantai yang lainnya, maka itu berarti arwah leluhur mereka telah menjadi makhluk yang abadi (berada di dunia yang baik).

Sebenarnya ada beberapa cerita dan legenda yang melatarbelakangi ritual Zhong Yuan Jie, Ulambana atau Ghost Hungry Festival yang diadakan di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka berasal dari ajaran Kong Hu Cu, Buddha, atau legenda-legenda lainnya.

Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris di zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta Dewa-Dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur atau di masa-masa pertengahan bulan ke-tujuh, yang merupakan saat-saat menyambut masa panen dapat terberkati dan berlimpah.

Maka di bulan itulah, biasanya mereka berdoa kepada Dewa-Dewa serta meminta dukungan leluhur mereka agar panen mereka bisa berlimpah, sekaligus memberi penghormatan kepada arwah leluhur.

——Rep. Evie
Keterangan foto: Warga mengantri mendapatkan paket sembako pada Sembahyang Rebutan atau King Hoo Ping dilakukan di Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen pada Kamis, 15/8/2019

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Chat DJ