Sentimen negatif di pasar surat utang negara (SUN) mulai mereda. Harga SUN diperkirakan akan mengalami kenaikan setelah imbal hasil atau yield diprediksi turun dalam rentang 6,50%-7,00% untuk tenor 10 tahun

Sentimen negatif di pasar surat utang negara (SUN) mulai mereda. Harga SUN diperkirakan akan mengalami kenaikan setelah imbal hasil atau yield diprediksi turun dalam rentang 6,50%-7,00% untuk tenor 10 tahun

Nasional38 Dilihat

Sentimen negatif di pasar surat utang negara (SUN) mulai mereda. Harga SUN diperkirakan akan mengalami kenaikan setelah imbal hasil atau yield diprediksi turun dalam rentang 6,50%-7,00% untuk tenor 10 tahun pekan ini.

Analis Pendapatan Tetap PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Ahmad Nasrudin, mengungkapkan bahwa meredanya sentimen negatif terkait kebijakan moneter disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga di negara maju.

“Data ekonomi terbaru menunjukkan pelemahan, sehingga meningkatkan peluang bagi bank sentral untuk mengambil langkah pelonggaran moneter. Pasar mengharapkan suku bunga akan mulai turun pada semester II 2024, dengan asumsi pemangkasan akan lebih cepat di Eropa daripada di AS,” jelasnya pada Minggu (26/5/2024).

Ahmad juga mengharapkan rilis data ekonomi dari negara maju akan mendukung rencana pelonggaran moneter tetap berada pada jalurnya dan mengurangi tekanan terhadap pasar negara berkembang. Penurunan risiko juga memancing investor asing untuk kembali masuk ke pasar utang Indonesia, melanjutkan aliran masuk sebesar Rp 0,88 triliun selama tiga hari kerja pekan lalu.

“Sekarang ini menjadi kesempatan untuk masuk kembali di tengah semakin dekatnya siklus pemangkasan suku bunga di negara maju. Selain itu, saya mengharapkan permintaan domestik juga tetap solid di tengah pasar saham yang lemah untuk naik,” ungkapnya.

Investor asing melihat koreksi selama dua bulan terakhir sebagai titik entri yang menarik. Dengan begitu, asing memiliki dua keuntungan, dari koreksi harga dan depresiasi rupiah, yang memungkinkan untuk membeli lebih banyak unit daripada sebelum koreksi untuk setiap dolar yang sama.

Jika investor asing tidak segera masuk kembali, mereka mungkin akan tertinggal karena investor domestik sudah mulai memborong di harga bawah.

“Investor domestik memainkan peran yang signifikan setelah kepemilikan asing tinggal sekitar 14%. Misalnya, di awal-awal minggu pasca-kenaikan suku bunga, investor domestik seperti asuransi dan dana pensiun membeli SUN mencapai Rp 18,24 triliun selama 1-8 Mei 2024,” tutur Ahmad.

Namun demikian, Ahmad mengingatkan bahwa situasi geopolitik masih menjadi momok yang sulit diprediksi.

“Selain geopolitik, risiko yang masih perlu diwaspadai dalam beberapa minggu ini termasuk progress disinflasi di negara-negara maju, ekses suku bunga tinggi, dan lain sebagainya. Meski mempercepat kemungkinan pemangkasan suku bunga, potensi resesi dan ekses negatif suku bunga tinggi saat ini bisa menciptakan spekulasi dan meningkatkan tekanan di pasar negara berkembang karena investor akan menghindari risiko dan memilih untuk mengamankan portofolio pada aset safe havens,” tambahnya.

Berdasarkan kondisi ini, Ahmad memperkirakan yield 10 tahun akan bergerak di rentang 6,50%-7,00% dengan kecenderungan untuk turun ke sekitar 6,8% di akhir pekan depan.

Sementara itu, pada Selasa, 28 Mei 2024, pemerintah akan menggelar lelang surat ttang negara (SUN) dengan tujuh seri, menargetkan indikatif Rp 22 triliun dan maksimal Rp 33 triliun. Ahmad memprediksi bid-to-cover ratio lelang kali ini berada di kisaran 1,75 hingga 2,5 kali, mirip dengan lelang-lelang sebelumnya.

“Minat terhadap lelang masih tetap tinggi, terutama dengan sinyal positif terkait pelonggaran moneter yang semakin nyata,” ungkap Ahmad.

Dia menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi investor untuk berburu kupon tinggi sebelum semakin langka di masa depan. Pada lelang sebelumnya hingga 14 Mei 2024, bid-to-cover ratio naik dari rata-rata 2,29 kali menjadi 2,30 kali, menunjukkan minat yang terus meningkat. Meski penawaran pekan lalu hanya sebesar Rp 16,5 triliun, Ahmad menyatakan ini bukan karena kurangnya minat, melainkan karena target indikatif lelang yang hanya sebesar Rp 10 triliun.

Untuk pekan depan, Ahmad memprediksi total penawaran akan berada di rentang Rp 38,5 triliun hingga Rp 55 triliun, dengan pemerintah kemungkinan menyerap sekitar Rp 22 triliun.

“Penurunan yield baru-baru ini memberikan peluang untuk menurunkan kupon dan mengoptimalkan dana yang diperoleh,” jelasnya.

Investor diperkirakan akan lebih tertarik pada tenor jangka menengah, mengingat tenor panjang sudah cukup mahal. Namun, tenor panjang tetap menarik karena menawarkan kupon yang tinggi, yang akan semakin langka ketika bank sentral mulai melonggarkan kebijakan moneter.