Studio Geometry yang di awal berdirinya pada 2012 sebagai penerbit buku independen dengan fokus budaya kreatif

oleh -712 views

Studio Geometry yang di awal berdirinya pada 2012 sebagai penerbit buku independen dengan fokus budaya kreatif, berupaya mengakomodasi kebutuhan pelaku industri kreatif dalam referensi, pengetahuan industri terapan, serta ruang bagi mereka untuk saling terhubung dan menunjukkan karya.

“Dengan semakin berkembangnya sektor ekonomi kreatif di Indonesia belakangan ini, belum banyak media yang dapat melakukan itu. Di sinilah Geometry memposisikan diri sebagai agregator untuk memfasilitasi dan mengisi ruang yang ada,” kata Pendiri Studio Geometry Primo Rizky dalam keterangan tertulisnya Kamis (21/10/2021).

Dia mengatakan pada 2020 Studio Geometry bertransformasi menjadi Geometry dengan mulai menjajaki platform digital yang mengangkat berbagai kisah mengenai bisnis kreatif dilengkapi sejumlah kanal media sosial seperti Instagram, YouTube, LinkedIn. “Geometry kini tengah berkembang secara konsisten sebagai tempat untuk mencari ide, inspirasi, dan jejaring dengan para pelaku industri kreatif di Tanah Air,” kata dia.

Dalam perkembangannya Geometry dipercaya memegang program sejumlah festival kreatif tahunan seperti IDEAFEST dan Live Stream Fest dengan Primo Rizky yang didapuk sebagai Head of Content dari kedua festival tersebut.

Primo mengatakan, project pertama Geometry pada 2012 adalah menerbitkan buku yakni Brand Cookbook, yang membahas strategi branding dan pemasaran kreatif, yang dibawakan ala buku resep masakan dalam menjelaskan isi materi. Seiring berjalannya waktu, judul-judul lain di bawah naungan Studio Geometry bergulir. Di tahun 2015, We Indonesians Rule terbit. Buku ini merupakan sebuah dokumentasi para pelaku industri kreatif Indonesia yang karyanya telah dikenal di dunia, mulai Joko Anwar, Mouly Surya, Andra Matin, Alvin T, hingga Papermoon Puppet Theatre.

Tidak lama setelahnya, Magno: The Story Behind, buku yang berisi kisah proses kreatif pembuatan radio kayu Magno yang ditulis oleh Singgih Kartono, sang artisan di baliknya, juga dirilis oleh penerbit ini.

Beberapa judul lain yang masih terkait dengan industri kreatif yang diterbitkan Studio Geometry antara lain adalah Made In Jakarta, publikasi yang meliput sejumlah artisan, makers, dan desainer lokal di ibu kota, dan Top Tables, buku panduan kuliner karya Kevindra Soemantri dan Natasha Lucas yang disusun atas rekomendasi oleh sejumlah figur publik di Jakarta seperti William Wongso, Daniel Mananta, Eva Celia, Mike Lewis, hingga Laksmi Pamuntjak. Buku-buku tersebut telah dipamerkan di berbagai ajang seperti Frankfurt Book Fair, Shanghai Book Fair, London Book Fair, hingga Singapore Book Fair.

Selain mempublikasikan buku dan majalah, Studio Geometry pun banyak mengerjakan publikasi, program, dan konten untuk sejumlah perusahaan, organisasi, brand, media, hingga festival.

No More Posts Available.

No more pages to load.