Sudah lebih dari satu tahun Covid-19 melanda di dunia. Bahkan khasusnya lebih parah lagi di Indonesia

oleh -377 views

Sudah lebih dari satu tahun Covid-19 melanda di dunia. Bahkan khasusnya lebih parah lagi di Indonesia. Dalam beberapa bulan kemudian, struktur dari virus ini atau istilah biologi molekuler yang digunakan genome lengkapnya pun sudah diketahui.

Hal ini memungkinkan vaksin dan obat-obatan yang bisa digunakan sebagai obat Covid-19, walau obat tersebut memang belum spesifik ditemukan untuk menghilangkan virus ini dari tubuh.

Begitupun vaksin yang benar-benar efektif juga belum didapat. Menurut Ari Fahrial Syam selaku Akademisi dan Praktisi Klinis, virus tetaplah virus. Saat virus masuk kedalam tubuh, daya tahan tubuh akan melawan keberadaan virus tersebut yang kita sebut masa inkubasi sampai seorang yang sudah terpapar infeksi tersebut mengalami gejala.

Maka sangat penting mengobservasi diri kita sendiri untuk mengetahui perubahan yang dialami pada tubuh di masa pandemi ini. Minggu pertama saat seseorang sudah bergejala merupakan kunci penting apakah kita bisa sembuh atau sebaliknya kondisi semakin buruk.

Oleh sebab itu, badan kesehatan dunia WHO mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang terinfeksi virus dan tanpa gejala cukup isolasi mandiri selma 10 hari dan bisa dikatakan sembuh dan bisa lepas isolasi.

“Karena jika dalam 10 hari masih tetap tanpa gejala, sebenarnya  daya tahan tubuh kita bisa menghancurkan virus tersebut. Makanya untuk pasien tanpa gejala tidak perlu minum antivirus, cukup dengan vitamin,” ujar Prof. Ari dalam siaran tertulisnya.

Pentingnya Minggu Pertama pada Pasien Terinfeksi

Begitu pun untuk pasien dengan gejala ringan, diusahakan agar tetap dipertahankan  tidak memburuk khususnya pada minggu pertama tersebut. Masa isolasinya 10 hari ditambah tiga hari tanpa gejala, karena dianggap bahwa pasien tersebut sudah berhasil mengatasi infeksinya.

Kuncinya adalah istirahat, banyak tidur, tidak stress tetap makan dan minum yang cukup. Ketika badan sudah tidak nyaman segera istirahat jangan dipaksakan untuk tetap bekerja atau beraktifitas.

“Pada minggu pertama, kita harus memberikan  kesempatan daya tubuh bisa melawan virus tersebut,” ujar Prof. Ari.Pada pasien dengan gejala ringan dan sedang yang sedang isoman antivirus seperti favipirafir dan obat azitromisin sudah bisa diberikan. Favipiravir sebagai obat anti virus Untuk mengurangi jumlah virus dan sedang azitromisin sebagai anti radang dan imunomodulator utk melawan virus tersebut.

“Observasi saya atas kasus yang memburuk salah satunya adalah mengonsumsi dexamethasone baik generik maupun merk dagang. Beberapa waktu ada edaran yang memberikan daftar obat untuk pasien isoman salah satunya untuk  mengosumsi  dexamethasone, saya juga menemukan resep dari platform telemedicine yang juga memberikan dexamethasone,” jelasnya.

“Ilmu kedokterkan berbasis bukti menyebut dexamethasone tidak berguna untuk pasien tanpa gejala, begitupun untuk gejala ringan dan sedang. Saya pernah menyampaikan mengenai dampak buruk mengonsumsi dexamethasone ini, saya sebut obat ini sebagai pisau bermata dua,” tambahnya.

Prof Ari mengatakan covid-19 tanpa gejala, gejala ringan dan sedang khususnya diawal penyakit yang dibutuhkan adalah peningkatan daya tahan tubuh. Sedangkan Dexamethasone membuat daya tahan tubuh kita menjadi lemah, sehingga membuat virus menjadi mudah meraja lela, untuk pasien dengan hipertensi dan kencing manis, bisa membuat gula darah menjadi tidak terkendali, untuk yang menderita hipertensi tekanan darah menjadi tidak terkontrol, ini akan memperburuk pasien dengan kedua penyakit ini yang memang menjadi komorbid untuk pasien Covid-19.

Efek samping dexamethasone juga menyebabkan pasien menjadi mudah cemas dan insomnia, hal yang harus dihindari saat kita menderita Covid-19. Belum lagi dexamethasone membuat kita menjadi mual dan perih di lambung membuat nafsu makan hilang.“Hal ini menjadi catatan pemberian ini akan membuat kondisi bertambah buruk,” tutupnya.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.