Warga negara Indonesia (WNI) yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) harus melalui proses verifikasi status kewarganegaraan

oleh -177 views

dnewsradio.com – Warga negara Indonesia (WNI) yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) harus melalui proses verifikasi status kewarganegaraan, sebelum kembali ke Indonesia.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arrmanatha Nasir, WNI yang bergabung menjadi simpatisan dan pejuang kelompok teroris ISIS di Suriah, tidak bisa otomatis pulang ke Indonesia karena harus melewati proses veifikasi panjang atas status kewarganegaraannya.

Sejauh ini, tidak ada data akurat terkait jumlah WNI yang berada di Suriah karena sebagian dari mereka berada di sana secara ilegal dan tidak pernah melaporkan diri.

“Terkait WNI yang diduga terlibat atau ke sana (Suriah) untuk mendukung ISIS, sebagian dari mereka pada saat ke sana sudah tidak memiliki dokumen resmi,” kata Arrmanatha Nasir, di kantor Kemlu, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

Arrmanatha Nasir menjelaskan, sejak adanya repatriasi sekitar tahun 2012-2016, sebagian besar dari WNI sudah keluar dari Suriah. Tapi, pemerintah mendeteksi sejumlah WNI masuk secara ilegal ke Suriah.

“Tentunya kita harus melakukan berbagai tahap sebelum bisa memastikan apakah kita memberikan pelayanan sebagai WNI,” ujar Arrmanatha Nasir.

Lama proses verifikasi tidak bisa dipastikan, tapi sifatnya sangat panjang. Proses tersebut juga tidak dilakukan sendiri oleh Kemlu, tetapi oleh tim yang terdiri dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kepolisian, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

“Mereka akan terlibat dalam proses menentukan, identifikasi, yang dulu terlibat dengan ISIS apakah mereka WNI atau tidak, setelah itu kita baru bisa menentukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Arrmanatha Nasir.

Kekalahan ISIS Isu WNI yang bergabung dengan ISIS kembali mencuat setelah kekalahan ISIS di basis terakhirnya di Banghouz, Suriah. Dilaporkan, sejumlah simpatisan dan pejuang asing ingin kembali ke negara mereka, termasuk yang berasal dari Indonesia

Disebutkan, dari para simpatisan tersebut, seorang ibu dengan empat anak asal Bandung bernama Mariam Abdullah yang bergabung dengan ISIS di Suriah bersama suaminya, Saifuddin.

“Saya belum mendapatkan informasi. Banyak orang bisa berbahasa Indonesia dan banyak yang namanya Mariam. Saya tidak punya kapasitas untuk memberi tahu apakah seseorang benar-benar WNI karena banyak prosedurnya. Bukan dari Kemlu saja, tapi imigrasi, bahkan akan dicek ke keluarganya. Sangat detil pengecekannya,” ujar Arrmanatha Nasir terkait orang yang diduga WNI dari Bandung tersebut.

Arrmanatha Nasir menolak berandai-andai mengenai sikap pemerintah jika ternyata orang tersebut benar sebagai WNI. Dia mengatakan sejumlah WNI pernah kembali ke Indonesia dari Suriah tahun lalu setelah melewati proses sangat panjang.

“Mereka harus diverifikasi kewarganegaraannya, setelah itu dianalisa kembali terkait perlunya proses deradikalisasi. Jadi banyak tahapnya, baik di Suriah maupun di Indonesia akan melakukan tahap sangat panjang. Dari situ baru kita menentukan apakah mereka akan diterima atau tidak (di Indonesia),” tandas Arrmanatha Nasir.

Meskipun ISIS telah mengalami kekalahan utama sejak tahun 2017, keberadaannya diakui secara luas masih menjadi ancaman keamanan karena memiliki banyak sel-sel tertidur dan beberapa kantong di wilayah terpencil Suriah. Ancaman itu juga termasuk kembalinya para kombatan ISIS ke tanah airnya masing-masing yang dikhawatirkan akan membahayakan keamanan domestik.

No More Posts Available.

No more pages to load.