Yustin Noval mengatakan, Indonesia dan hampir sebagian besar negara di dunia telah melewati masa “tak terprediksi” di tahun 2020

oleh -319 views

SEA Regional Business Development Manager Neuro.net, Yustin Noval mengatakan, Indonesia dan hampir sebagian besar negara di dunia telah melewati masa “tak terprediksi” di tahun 2020. Saat ini, perubahan cara kerja masyarakat mulai mengarah ke penggabungan gaya lama dan gaya baru. Pandemi Covid-19 bisa dibilang telah mengubah dunia dan cara masyarakat dalam berkomunikasi.

“Saat ini, cara berkomunikasi ‘normal yang baru’ terbentuk, mengkombinasikan teknologi lama dengan teknologi di era baru. Memasuki babak baru di masa pandemi, kinerja bisnis di industri telekomunikasikian menjadi sorotan. Ketergantungan masyarakat pada jasa internet dan konektivitas semakin meningkat seiring kebutuhan untuk bekerja dan belajar dari rumah serta akses ke tayangan hiburan di platform digital,” kata Yustin .

Yustin menyatakan, Neuro.net sebagai perusahaan rintisan atau startup pengembang teknologi kecerdasan buatan (Artifical Intelligence/AI) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) menerima peningkatan permintaan terhadap layanan contact center dari beberapa operator telekomunikasi di beberapa negara.

“Jika bicara global, perusahaan kami saat ini mencatat kenaikan trafik panggilan sampai 30% setiap bulannya. Banyaknya permintaan dari pelanggan membuat perusahaan-perusahaan mitra kami juga harus siap ekstra untuk melayani setiap panggilan dengan cepat dan efisien,” tuturnya.

Saat ini, Neuro.net telah bermitra dengan lebih dari sepuluh perusahaan telekomunikasi yang tersebar di lebih dari lima negara. Layanan contact center berbasis voice-AI adalah salah satu dari layanan yang dimiliki Neuro.net. Yustin menyebutkan, agen-agen virtual dari Neuro.net memiliki tingkat kemiripan dan respon yang sangat tinggi layaknya manusia.

“Pemanfaatan agen virtual bagi perusahaan telekomunikasi sangatlah krusial bagi bisnis dan reputasi perusahaan. Terlebih dengan trafik yang tinggi, teknologi Neuro.net memungkinkan bisnis bisa menjawab pertanyaan sampai memberikan solusi kepada konsumen dengan waktu yang singkat, dan semuanya dioperasikan oleh bot,” papar Yustin.

Penggunaan Bot IVR (Interactive Voice Response) umumnya sudah digunakan oleh banyak perusahaan penyedia jasa kecerdasan buatan. Biasanya, Bot IVR berkomunikasi satu arah dan memutar pesan suara yang telah direkam saat pelanggan melakukan panggilan telepon. Namun, kini otomatisasi interaksi terus berkembang dan menyesuaikan kebutuhan pada percakapan yang lebih intens lagi.

“Neuro.net adalah salah satu dari perusahaan yang telah mengembangkan teknologi yang dapat menjawab pertanyaan atau ‘bereaksi’ terhadap sebuah percakapan kompleks,” tandasnya.

Yustin menjelaskan, agen virtual berbasis AI, adalah generasi teknologi suara yang terbaru dan lebih pintar. Ia mampu mengubah komunikasi menjadi sebuah percakapan antar perusahaan dan konsumen.

“Teknologi ini didasarkan pada jaringan neural (neural network), pembelajaran mesin (machine learning), dan big data. Agar lebih efisien, ia harus dilatih dengan menggunakan rekaman percakapan telepon asli antar manusia, agen contact center dan konsumen. Rekaman panggilan akan dikodekan, dianalisis, ditandai untuk jaringan neural, untuk selanjutnya dilakukan pelatihan,” jelasnya.

Disinggung mengenai jaringan neural, perusahaan yang juga memiliki pusat research and development (R&D) di Eropa Timur ini mengembangkan skema respon neural yang bisa dapat memahami frasa yang kompleks dan respon yang tidak umum.

“Misalnya kalau di Indonesia, konsumen mungkin jarang menggunakan kata ‘ya’ dan ‘tidak’, lumrahnya pakai respon ‘apa’ atau ‘oke’. Nah, agen virtual kami bisa merespon dengan sangat beragam seperti tadi lewat pemrosesan ucapan atau Natural Language Understanding (NLU),” tambahnya.

Berkat NLU, percakapan antara bot dan manusia tidak dapat dibedakan, dan terdengar sangat mirip, mulai dari intonasi, jeda, dan responnya. Hebatnya lagi, berkat pembelajaran mesin (machine learning), agen virtual dapat menjadi lebih baik setiap kali ada percakapan atau skenario baru.

“Statistik kami menunjukkan, hanya 1% konsumen yang dapat membedakan agen virtual AI dengan agen manusia yang sesungguhnya. Tidak seperti IVR ‘tradisional’ yang sistemnya hanya mampu memutar sampel teks yang telah direkam sebelumnya atau mengenali perintah suara, agen virtual saat ini memahami bahasa alami, dapat memahami ucapan manusia, mendeteksi, dan meniru emosi,” jelas Yustin.

No More Posts Available.

No more pages to load.